Fellow News adalah media informasi dan komunikasi Komisi Pemuda GKI Taman Cibunut, Bandung yang bertujuan meningkatkan wawasan umum maupun rohani pemuda, khususnya bagi jemaat pemuda GKI Taman Cibunut. Setelah lama hibernasi, kini Fellow News hadir tidak lagi lewat media cetak namun lewat media elektronik ini. Selamat menikmati! GBU...
Kamis, 18 November 2010
MEMPRIORITASKAN TUHAN
Tuhan tidak melarang kita untuk sukses di berbagai bidang, Tuhan tidak menuntut kita menjadi Mr./Ms. Perfect terlebih dahulu sebelum mengejar cita-cita, materi, atau cinta. Tapi Dia ingin kita mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu agar dapat melakukan dan mengejar hal yang tepat dalam hidup kita. Segala hal di luar Tuhan bisa hilang lenyap tidak berbekas kalau Tuhan berkehendak. Tapi jika kita memprioritaskan Tuhan dalam hidup kita, pasti Tuhan akan menyediakan yang kita butuhkan tepat pada waktunya.
Sebagai ilustrasi, jika Tuhan diibaratkan sebagai angka 1 sementara hal-hal lain diibaratkan sebagai angka 0, maka apabila Tuhan diutamakan (=angka 1 ditaruh di depan), maka apapun yang ditaruh di belakangnya (=angka 0) akan menjadi bernilai (10 atau 1000, dst). Namun apabila kebalikannya, maka angka-angka tersebut tidak akan bertambah nilainya (01 atau 0,001, dst). Demikian pula hidup kita; jika kita memprioritaskan Tuhan maka kehidupan kita akan jauh lebih bermakna. Memang hal itu tidak mudah untuk dilakukan, bahkan tantangannya jauh lebih banyak dibandingkan kalau kita memprioritaskan hal lain. Namun pilihan ada di tangan kita; mau jadi orang yang punya hidup lebih bermakna, atau cuma sekedar ‘numpang nafas’?
Nah, bagi rekan-rekan pemuda yang sudah bekerja, jangan lupa Jumat 19 November 2010 Pkl. 18.30 ada Totumi Prospek di Ruang Sekolah Minggu. Di situ kita akan belajar juga untuk memprioritaskan Tuhan di tengah kesibukan pekerjaan dan pergumulan hidup kita. Semoga renungan ini berguna, Tuhan memberkati...:) [be]
Senin, 02 Agustus 2010
BICARA SOAL KEBENARAN
"The truth may upset you at first but it will ultimately set you free (kebenaran mungkin awalnya akan membuat Anda kecewa, namun pada akhirnya akan membebaskan Anda)" .-A.R. Bernard-
Kadang kebenaran tidak mudah diucapkan, dan ketika diucapkan kadang mengganggu kenyamanan hidup kita. Namun jika kita berani mengungkapkan kebenaran, pada akhirnya hal tersebut akan membuat hidup lebih baik. Bayangkan saja apabila pada zaman Nazi orang-orang Kristen berani bersuara untuk menentang Holocaust, tentu dunia akan berbeda (walau bisa jadi orang-orang Kristen malah jadi sasaran pembantaian selain orang-orang Yahudi dan kaum terbuang lainnya! Only God knows...).
Nah, kalau yang lagi aktual di Indonesia saat ini, akhir2 ini FPI makin bikin resah ya? Hukum pun gak dianggep sama mereka. Misalnya anggota DPR diusir FPI saat bertemu korban Orba/bekas PKI, atau patung mojang yang akhirnya dibongkar karena dianggap lambang trinitas.
Silakan baca beritanya di: http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=713%3Adituduh-lambang-trinitas-patung-tiga-mojang-harus-dibongkar&catid=49%3Anusantara&Itemid=74
Silakan baca komentar pematungnya di: http://oase.kompas.com/read/2010/06/21/01200467/Nyoman.Nuarta.Dapat.Dukungan.Cucu-5
UKURAN KEHEBATAN MANUSIA
Manusia sering mengukur dirinya dengan mengukur potensi dirinya, prestasi hidupnya, pokoknya sesuatu yang membanggakan. Tapi Alkitab sering mengingatkan manusia untuk menjadi orang yang bisa menguasai dirinya sendiri, karena kedagingan (emosi, nafsu, dsb) adalah hal yang sulit ditaklukkan oleh siapapun--termasuk orang yang selama ini kita anggap hebat atau berprestasi.
Amsal 16:32 berbunyi: "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Jadi, mulailah dari memenangkan pertempuran terhadap diri sendiri, mulailah dengan menyerahkan semua kebanggaan diri ke tangan Tuhan. Itulah ukuran kehebatan manusia! Selamat menjalani minggu ini yaa.. [be]
MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA— HIDUP YANG TENANG, SEDERHANA, DAN BIASA-BIASA SAJA
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” ---Doa Bapa Kami
Selama 22 tahun, saya memahami kalimat tersebut sebagai: “Bapa, berikan kami makanan yang cukup, keluarga sederhana yang bahagia, serta rumah dan gaji yang biasa-biasa saja”. Terus terang, pemikiran kekanak-kanakan saya terganggu dengan kalimat tersebut. “Mengapa saya cuma boleh hidup biasa-biasa saja? Saya ingin kaya dan popular namun tetap menjadi orang baik, koq!” Pemikiran saya yang lebih dewasa akhirnya menerima ini sebagai, “Oke Bapa, saya mengerti kalau Engkau ingin aku hidup sederhana, tapi kalau Kau memberikan kekayaan yang lebih besar, saya berjanji bahwa saya tidak akan menjadi orang jahat. Janji!” Ini membuat saya berdoa Bapa Kami lebih lama dibandingkan orang lain.
Tapi suatu hari, setelah membaca sebuah artikel di website Kristen, saya membuka Yohanes 6:51: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Jadi, kalimat dalam Doa Bapa Kami tersebut pun bukan berbicara tentang kekayaan jasmani; bukan mengenai makanan jasmani ataupun uang. Akan tetapi kalimat tersebut berbicara tentang Tuhan. Kita harus hidup untuk-Nya walaupun kita kaya ataupun miskin. Doa Bapa Kami tidak melarang saya untuk menjadi kaya. Tapi sekali lagi, kekayaan jasmani bukanlah pokok bahasan utamanya.
Sampai di sini, kesimpulannya adalah: “menjadi kaya itu tidak salah”. Namun kemudian pemikiran kritis saya bertanya, “Ada apa sih dengan kekayaan sehingga hal tersebut lebih disukai dibandingkan kehidupan yang tenang, sederhana, dan biasa-biasa saja?”. Saya telah melihat bahwa kebahagiaan yang sejati lebih banyak dimiliki oleh orang yang hidupnya sederhana dan biasa-biasa saja. Kebahagiaan mereka bukanlah karena bisa membeli kemewahan, tapi karena mereka bahagia dalam kondisi apapun. Karena itulah kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan yang sejati.
Tapi sekali lagi, kemewahan atau kekayaan sebenarnya tidaklah salah, yang salah adalah apabila kita terjerumus di dalamnya dan mengabaikan kebahagiaan sejati di dalam hidup kita.
Diterjemahkan secara bebas dengan perubahan seperlunya, dari artikel “Daily Bread — Tranquil, Simple and Moderate Living” oleh Marko Kanadi (kanadi.wordpress.com), salah satu pemuda Cibunut yang kini sedang kuliah di Jepang. [be]
Rabu, 27 Januari 2010
Let's Pray!
Katanya, doa itu besar kuasanya. Tapi apakah dalam kesibukan dan kepanikan kita (misalnya dalam pelayanan, dalam menghadapi masalah hidup, dsb) kita tetap ingat untuk berdoa?
Ketika orang punya masalah, kita kadang gak bisa bantu secara nyata. Kita seringkali berkata, ”Sori gw ga bisa bantu euy, tapi ntar gw doain yaaaa..”. Apakah benar setelah itu kita berdoa buat orang tersebut?
Doa ituuuu...paling gampang dijanjikan, paling gampang diucapkan, tapi paling susah untuk dilakukan secara rutin dan khusyuk, tul gak?
Roma 12:11-12 bilang ”Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
Dalam pelayanan kita, dalam pergumulan hidup kita---di luar segala kekurangan kita---, pastinya udah banyak yang kita lakukan bukan? Mari kita juga bawa semua itu dalam doa, karena tanpa penyertaan Tuhan, ”sia-sialah orang membangun rumah”. Secape apapun kita mengerjakan sesuatu, tapi kalo kita gak menyerahkan semuanya ke Tuhan, apa jadinya pekerjaan kita? Bisa aja pelayanan atau pekerjaan perfect banget secara teknis, tapi gak menyentuh hati. Atau kalo hasilnya gak memuaskan, tetep aja...gak memuaskan n gak berasa ada berkat atau pelajaran bermakna di situ. Yang ada mungkin cuma rasa kecewa dan kesel,a atau bisa jadi timbul keinginan untuk memperbaiki kondisi dengan kekuatan sendiri tanpa campur tangan Tuhan.
Pastinya dengan penyertaan Tuhan, segala usaha kita akan lebih bermakna dan diberkati. Bahkan Tuhan akan menyempurnakan segala pekerjaan kita jauh melebihi apa yang pernah kita bayangkan! :D Gak cuma bikin puas diri sendiri, tapi apapun yang kita lakukan bisa jadi berkat buat orang lain. Mungkin hasilnya sederhana, gak heboh, tapi dijamin dah kalo pake doa beda rasanya :)
Sooo, let’s PUSH (pray until something happen)! Let’s do the best, and God will do the rest!
[be]
Jumat, 21 Agustus 2009
KETERBATASAN KITA
Suzanne Bloch, seorang imigran dari Jerman, sering bermain musik bersama Albert Einstein dan para ilmuwan terkemuka lain. Ia berkata bahwa Einstein adalah pemain biola yang hebat,tetapi ia sering membuat jengkel para pemusik lainnya karena tak bisa mengikuti ketukan irama. "Einstein tak bisa menghitung ketukan," kata Bloch menjelaskan. Ya! Einstein bisa merancang teori-teori revolusioner tentang alam semesta, tetapi ia bermasalah dalam menghitung irama. Namun, meski memiliki keterbatasan, Einstein tetap seorang pemusik yang antusias.
Apakah kadang-kadang kita meratapi berbagai keterbatasan kita? Kita semua mempunyai kemampuan, tetapi kita kadang juga terhambat oleh ketidakmampuan. Dari situ, kita bisa saja tergoda untuk menggunakan keterbatasan kita sebagai alasan untuk tidak melakukan beberapa hal, yang sebenarnya bisa kita lakukan karena Allah telah memampukan kita. Jika kita tidak berbakat untuk berbicara di depan umum atau menyanyi di paduan suara, bukan berarti kita boleh berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa untuk pelayanan.
God bless u my friends
Minggu, 16 Agustus 2009
ANOMALI ZAMAN HI-TECH
HP ada bukan mempermudah komunikasi, tapi untuk menyortir siapa yang perlu diwaro...
Punya nomer HP lebih dari 2 tapi susaaaaahh buanggeeettttt dihubungi...
Bisa internetan gratis di wilayah2 hot spot kampus, tapi gak dipake buat nyari data untuk tugas kuliah, adanya? Main games, FB, pokoke hedon abis!
.....dst.....
Atau, dengan kemudahan komunikasi yang ada di zaman sekarang (FB, HP, dsb) bikin kita mengabaikan cara2 konvensional atau tradisional dalam menjalin kebersamaan dengan orang lain. Kita jadi kagok untuk bergaul, jadi males untuk ricek suatu problem secara langsung karena menganggap, "Aah...kan udah dibahas lewat e-mail", "Aah...gw udah SMS", atau bisa jadi kita hidup tanpa kesadaran penuh, gak nginget2 hal penting (misal rapat atau pertemuan khusus yang udah di-plot dari jauh2 hari) karena berpikir bahwa, "Aah..ntar juga kalau gw dibutuhin bakal ada penanggung jawab yang SMS untuk ngingetin gw".
Pernahkah pengalaman2 di atas--atau anomali yang sejenis--terjadi dalam hidup teman2 semua? Kalau pengalaman2 di atas terlalu sering terjadi dalam hidup kita, rasanya kita perlu bercermin: apakah saya sudah tepat menggunakan teknologi yang ada?
Buat gw, mending gw gak punya fasilitas berteknologi canggih kalau gara2 itu kualitas hidup gw berkurang n masalah gw bertambah... Hidup itu udah susah...ngapain juga dibikin tambah susah?!?
-Isabella I.A.-
fellownews.blogspot.com
buku-ijo.blogspot.com
belkubel.blogspot.com
Kamis, 13 Agustus 2009
SEMANGKUK BAKMI PANAS
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,
"Nona,apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"
"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang." jawab Ana dengan malu-malu.
"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu. " jawab si pemilik kedai,
"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
" Ada apa,nona?" tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu.” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
"Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi!,tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku,mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri." katanya kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya."
Ana terhenyak mendengar hal tersebut.
"Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele,aku bertengkar dengannya.”
Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana,kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:
"Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang".
Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.
RENUNGAN:
BAGAIMANA PUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA, TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU…
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
HAI ANAK-ANAK, TAATI DAN HORMATILAH ORANG TUAMU DALAM KESEHARIANMU, KARENA ITULAH HAL YANG TERINDAH DI MATA TUHAN. :)
Dari: Christian Ade Chandra Meliala
Dikirimkan oleh: Tresy Nabasa
Selasa, 11 Agustus 2009
MASALAH KLASIK...
Biasanya, masalah justru banyak dateng ke orang yang menjadi PELAKU, bukan PENONTON, soalnya semakin kita 'terjun' dalam suatu kegiatan, pasti banyak tantangan yang dihadapi. Sebagai manusia biasa terkadang kita merasa pengen nyerah aja menghadapi masalah itu. Tapi segi positifnya, sebenarnya permasalahan yang ada bisa bikin kita tambah kuat dan jadi orang yang lebih tahan banting. Pastinya kualitas ini dibutuhin di dunia nyata, baik itu di dalam pelayanan, keluarga, tempat kerja, dsb. It's a blessing in disguise!
Ini semakin membuktikan bahwa anugerah or keselamatan dari Tuhan tuh bukan cuma untuk dinikmati, tapi untuk dikerjakan dalam kehidupan nyata. Kita hidup bukan cuma jadi penonton yang ongkang-ongkang kaki, cuma numpang nafas, cuma numpang makan, etc.... Tapi kita hidup buat hal yang lebih besar dari itu! Dan buat itu kita gak boleh cuma pengen dapet yang bagus2nya aja dari Tuhan (=cuma pengen BELAJAR aja..pelajaran yang bagus2nya aja yang ditelen), tapi kita juga kudu mau belajar dari masalah yang keliatannya buruk (=mau DIAJAR sama Tuhan).
So, kalo ada masalah yang sama dateng berulang kali, gw selalu mengingatkan diri bahwa: "Hmmm...berarti masih ada hal yang belum beres gw/orang2 lain pelajari dari masalah ini!!!!!". Selamat belajar teman-teman! :D
-Isabella I.A.-
Rabu, 22 Juli 2009
ANTUSIAS!!!

Kuncinya gimana biar tetep antusias? Klise sih, tapi udah jaminan mutu karena manjur sepanjang zaman: akrab sama Tuhan! SaTe, Doa, berkomunitas, mau berbagi, dll. Banyak orang-orang luar biasa di dunia ini yang berhasil gara2 resep 'klise' ini. Hasilnya gak instant sih, tapi kalo dilakonin gw yakin semua anak muda bisa LEBIH LUAR BIASA dibandingin sekarang! Kebayang kan kalo sekarang aja kita udah luar biasa, apalagi kalo rohani juga di-upgrade, pasti tambah amazing lagi!
Nah, balik lagi ke perkara antusias, ternyata untuk mempertahankan antusiasme itu sulit buanggettt!!! Jangankan orang tua, orang muda pun seringkali kesulitan untuk tetap antusias saat menghadapi tantangan hidup.Betul gak? Hayooo...ngaku! Hehehe... Padahal kaum muda identik dengan yang namanya semangat, antusiasme, rajin, produktif dan kreatif. Apa jadinya kalo anak muda lemes dan gak ada semangat hidup? Tua sebelum waktunya toh?
Ada ayat Alkitab yang berbunyi demikian:
Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.