Artikel ini diangkat untuk melengkapi renungan khotbah Minggu, 1 Agustus 2010 yang berjudul Andalan Utama dalam Hidup.“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” ---Doa Bapa Kami
Selama 22 tahun, saya memahami kalimat tersebut sebagai: “Bapa, berikan kami makanan yang cukup, keluarga sederhana yang bahagia, serta rumah dan gaji yang biasa-biasa saja”. Terus terang, pemikiran kekanak-kanakan saya terganggu dengan kalimat tersebut. “Mengapa saya cuma boleh hidup biasa-biasa saja? Saya ingin kaya dan popular namun tetap menjadi orang baik, koq!” Pemikiran saya yang lebih dewasa akhirnya menerima ini sebagai, “Oke Bapa, saya mengerti kalau Engkau ingin aku hidup sederhana, tapi kalau Kau memberikan kekayaan yang lebih besar, saya berjanji bahwa saya tidak akan menjadi orang jahat. Janji!” Ini membuat saya berdoa Bapa Kami lebih lama dibandingkan orang lain.
Tapi suatu hari, setelah membaca sebuah artikel di website Kristen, saya membuka Yohanes 6:51: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Jadi, kalimat dalam Doa Bapa Kami tersebut pun bukan berbicara tentang kekayaan jasmani; bukan mengenai makanan jasmani ataupun uang. Akan tetapi kalimat tersebut berbicara tentang Tuhan. Kita harus hidup untuk-Nya walaupun kita kaya ataupun miskin. Doa Bapa Kami tidak melarang saya untuk menjadi kaya. Tapi sekali lagi, kekayaan jasmani bukanlah pokok bahasan utamanya.
Sampai di sini, kesimpulannya adalah: “menjadi kaya itu tidak salah”. Namun kemudian pemikiran kritis saya bertanya, “Ada apa sih dengan kekayaan sehingga hal tersebut lebih disukai dibandingkan kehidupan yang tenang, sederhana, dan biasa-biasa saja?”. Saya telah melihat bahwa kebahagiaan yang sejati lebih banyak dimiliki oleh orang yang hidupnya sederhana dan biasa-biasa saja. Kebahagiaan mereka bukanlah karena bisa membeli kemewahan, tapi karena mereka bahagia dalam kondisi apapun. Karena itulah kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan yang sejati.
Tapi sekali lagi, kemewahan atau kekayaan sebenarnya tidaklah salah, yang salah adalah apabila kita terjerumus di dalamnya dan mengabaikan kebahagiaan sejati di dalam hidup kita.
Diterjemahkan secara bebas dengan perubahan seperlunya, dari artikel “Daily Bread — Tranquil, Simple and Moderate Living” oleh Marko Kanadi (kanadi.wordpress.com), salah satu pemuda Cibunut yang kini sedang kuliah di Jepang. [be]